Wednesday, February 22, 2017

9 PERSIAPAN MENGHADAPI WAWANCARA CHEVENING

Pengumuman shortlisted Chevening 2017 sudah dirilis beberapa hari yang lalu. Selamat untuk yang sudah berhasil masuk sampe ke tahap ini dan segera capai semangat baru bagi yang langkahnya untuk sementara terhenti di tahap ini. Kenapa aku menekankan kata-kata SEMENTARA? Karena ini bukanlah dead end road, satu jalan seems close, tapi pasti ada jalan lain. Sedih pasti iya. Itu reaksi normal. Tapi yang terpenting gimana cara nya kita bisa bangkit dan melangkah lagi. Aku pribadi sebelum keterima menjadi Chevener on my first attempt, duluan merasakan sakitnya ditolak sama LPDP. Jadi akan selalu ada jalan lain. Terus berusaha dan berdoa.

Yak, menjelang proses wawancara yang akan dimulai dari bulan Maret sampe April mendatang, banyak pertanyaan yang masuk terkait dengan persiapan wawancara. Therefore, aku bakal share 9 poin persiapan yang aku aplikasikan tahun lalu. Semoga bermanfaat.

1.     Kuasai essay yang sudah kamu buat
Sudah keterima sampai tahap wawancara merupakan langkah yang sangat outstanding. SELAMAT! Itu artinya berkas dan, terutama, essay yang sudah kamu buat memesonakan  dan meninggalkan penilaian yang sangat bagus untuk examiner. Sekarang tinggal bagaimana kamu mempertanggungjawabkan essay tersebut secara verbal dihadapan para interviewer. Saranku, tetep konsisten dengan essay yang sudah kamu buat. Jangan sampe lari kemana-mana. Silakan mengelaborasi jawaban tapi tetep jaga ritme dan track nya.  Contohnya, di poin career plan, kamu berencana untuk menjadi researcher, tiba-tiba pas diwawancara kamu menjelaskan kalau kamu akan menjadi entrepreneur setelah menyelesaikan S2. Itu akan mensimulasi pertanyaan baru bagi interviewer dan menunjukkan inconsistency terhadap apa yang sudah kamu tulis dengan apa yang kamu jawab pas wawancara.

Please bear in mind that all basic and main questions derived from the essays. Jadi pelajari lah kembali essay kamu sendiri. Jangan meng-komparasi-kan jawaban-jawaban dari orang lain terutama jawaban para alumni Chevening karena masing-masing mempunyai value yang berbeda-beda depend on their study and career plan. Therefore, kenali diri kamu sendiri, tujuan untuk sekolah, kenapa memilih jurusan tersebut, misi setelah menyelesaikan S2, dll. That would be different from one to others.

2.     Buat daftar pertanyaan yang berpeluang untuk ditanyakan ketika wawancara



Setelah memahami dan menguasai essay yang telah kamu buat, segera tulis pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan untuk di tanyakan saat wawancara nanti. Apalagi essay tersebut terbatas hanya 500 kata/essay, hal yang dituangkan sangat padat sehingga wawancara menjadi saat yang tepat untuk mengelaborasi ide dari essays tersebut.
Dan cobalah untuk memprediksi following questions yang muncul dari jawaban yang kamu lontarkan. Part pertanyaan ini akan berbeda dengan interviewee yang lain karena itu tergantung dari jawaban kamu sendiri.

3.     Latihan (independent – role play)
Setelah poin 1 dan 2 diatas sudah tercentang, langkah selanjutnya adalah LATIHAN. Sebuah proverb menyebutkan practice makes you perfect.


Latihan bisa dengan berbagai macam cara. Pengalamanku pribadi, aku latihan mandiri untuk wawancara Chevening karena aku enggak menemukan shortlisted lainnya dari Aceh. Baru akhirnya ketemu satu orang lagi dari Aceh 1 hari sebelum wawancara di Medan. Itu juga si kakak berasal dari Bireun sedangkan aku tinggal di Banda Aceh. Memang tidak memungkinkan untuk bisa peer practice. Tapi kalau kamu menemukan temen yang sama-sama masuk shortlisted, silakan latihan bersama dan saling memberikan positive feedback.
Atau bisa juga dengan meminta bantuan temen untuk mendengarkan jawaban kamu dan minta evaluasi dari mereka sehingga kamu bisa meminimalisir kesalahan pada saat wawancara nanti.

4.     Mengidentifikasi lokasi, tanggal, dan jam wawancara sebelum hari H



Ini poin persiapan yang tidak boleh diabaikan. Catat baik-baik kapan dan dimana kamu akan diwawancarai karena Chevening memberikan slot yang jelas untuk para interviewee. Dan pastikan dengan jelas lokasi nya dimana karena balik ke pengalamanku, lokasi wawancara ku itu terletak di Medan sedangkan aku tinggal di Banda Aceh. Jadi aku harus bener-bener mempersiapkan tanggal keberangkatan dari Banda Aceh-Medan 2 hari sebelum wawancara. Dan ketika nyampe di Medan, aku menghitung waktu dan jarak dari tempat tinggal menuju lokasi wawancara serta tranportasi umum apa yang aku gunakan sehingga aku bisa mengkalkulasi pukul berapa aku harus sudah tiba di tempat wawancara.
Ini kesannya sepele, tapi kalau tidak dipersiapkan dengan baik bisa berabe and will ruin your interview day.

5.     Mempersiapkan performa yang terbaik
Performa yang aku maksudkan disini adalah penampilan luar. Penting untuk mempersiapkan pakaian apa yang akan digunakan untuk wawancara. Saranku sih pake blazer/jas untuk meninggalkan kesan rapi dan formal. Pilih warna-warna yang sejuk dipandang, dalam hal ini warna-warna yang soft. Warna bisa memengaruhi kesan di mata orang lain. Banyak penelitian psikologi tentang playing with colors. Aku pribadi memilih warna pink salem yang soft dipadu dengan blazer hitam sehingga meninggalkan kesan smart casual outfit. Dan karena aku bertubuh pendek - mentok di angka 149 cm, aku memilih untuk mengenakan sepatu yang sedikit berhak tapi ketika jalan tidak akan meninggalkan bunyi ‘tuk tuk tuk’ di lantai. Risih didengar. Terakhir, aku tidak memakai asesoris apapun kecuali jam tangan.


Dan yang kesemua itu, paduan dari keseluruhan performa harus se nyaman mungkin dikenakan pas wawancara.
At the end, performa bisa memengaruhi presentasi individu ketika wawancara nanti dengan cara meningkatkan kepercayaan diri dan mereduksi kecemasan. It plays psychologically, guys.

6.     Relaksasi 2 hari sebelum wawancara


Setiap kali ada ujian dan wawancara, aku biasanya memberikan waktu jeda 1 atau 2 hari sebelum hari H gunanya untuk relaksasi diri dan supaya pikiran lebih tenang. Dan ketika pikiran lebih tenang, kecemasan bisa tereduksi dan beban pikiran akan berkurang. Ini akan berefek ketika di hari wawancara, pikiran yang tenang will lead into readiness on facing interview. Kesiapan tersebut akan sangat memengaruhi mental seseorang. Bayangkan, kamu ikut wawancara dan bakal ketemu sama pemuda pemudi lainnya yang enggak kalah keren dan semuanya great achievers. Kalau kepercayaan diri belum tertata dengan rapi dibarengi dengan kesiapan tadi, bisa bisa mental kamu runtuh dan itu bisa memengaruhi performansi kamu didalam ruangan wawancara.
Jadi bersiaplah!

7.     Tidur yang cukup dan sarapan
Malam sebelum hari wawancara, tidur lah dengan baik dan benar dan jangan lupa sarapan keesokannya. Tidur cukup dan sarapan akan memberikan kontribusi energy dan konsentrasi yang optimal.


8.     Mental dan spiritual


Ini kembali lagi ke masing-masing individu gimana cara pelaksanannya. Rutinitas ibadah seperti doa bisa memberikan semangat dan kekuatan baru. Dan biasanya, ketika mengikuti sebuah event – dalam hal ini kompetisi, aku suka melakukan self-evaluation dengan melakukan pembaharuan niat. Jadi dengan niat yang jelas, aku tahu arah mana yang aku ambil untuk setiap langkah. Dan dengan niat juga akhirnya aku bergerak nothing to lose. Jadinya ya enggak ada beban untuk melangkah. Dan kamu bisa melakukan dengan cara kamu sendiri.

9.     Tips di hari H:
  • Pergilah ke lokasi wawancara lebih cepat dari jadwal yang telah dipilih untuk menghindari kemacetan dan halangan rintangan yang lain.
  • Berbaur dengan peserta wawancara yang lain supaya kecemasan bisa tereduksi.
  • Pastikan untuk ke toilet sebelum masuk keruangan wawancara.
  • Tersenyum dan bismillah.


Should you have further questions, please drop it on the comment box below. I am wishing you tons of luck!



Nurul Husna Salahuddin
Chevening Scholar 2016-2017


*all pictures are credit to google

Thursday, January 5, 2017

6 MANFAAT MENGIKUTI PPAN

1.       Mendapatkan teman baru ketika mengikuti kompetisi
Aku ingat seorang kakak (Kak Ruz namanya) pernah nitip satu pesan ketika aku memutuskan untuk mengikuti seleksi PPAN 2013. Si kakak bilang “……make friends”. And yes I did. Kompetisi PPAN terasa sangat nikmat ketika kognitif diajak bekerjasama untuk “belajar bersama”. Dalam kata lain, kompetisi adalah sebuah ajang pengalaman, lahan belajar dan ladang memperluas silaturrahim. Karena PPAN, aku mendapat temen baru yang sekarang notabene nya sudah menjadi temen karib. Temen yang pada saat itu aku enggak terpikirkan akan menjadi temen diskusi, tempat bertanya, dan berbagi informasi. Beberapa diantaranya ada Mutia Elviani (I do not know how to describe her because she is too much for me dan doi sudah menaklukkan AAS dan akan segera sekolah ke negeri Kangguru tersebut), Liza Yulianti (Jenesys  for disaster batch and AAS awardee yang lagi kuliah di salah satu Universitas ternama di Melbourne), Nurhasanah (akrab disapa Inun, Jenesys for disaster batch bareng dengan Liza), dan lain lain. FYI, tiga-tiga nya single loh. Lol. You know what I mean.

2.       Beberapa soft skills meningkat atau bahkan bertambah
Pada umumnya, setiap program didalam PPAN memiliki beberapa aktivitas yang bersinggungan dengan people to people contact seperti courtesy call, homestay, workplacement (internship), cultural performance, community development, dan lain lain. Baik secara langsung  maupun tidak langsung, kemampuan dalam hal persuasive, leadership, programme management, negotiate, public speaking, social interaction, etc akan terasah dan hal tersebut akan membantu kita dalam pencapaian kedepan. Termasuk English skills seperti speaking and listening skills. Jadi jangan hanya terfokus pada peningkatan kemampuan bahasa inggris saja, kemampuan lainnya dapat dipertajam seiring berjalannya program.

3.       Saudara yang terbentang dari ujung Barat sampai ujung Timur Indonesia



Setiap program memiliki delegasi muda dari berbagai provinsi di Indonesia. It means kamu secara otomatis akan tergabung kedalam keluarga besar ini sepanjang kamu bisa me-maintain hubungan ini dengan baik. Bayangkan, kalau kamu pengen ke Sulawesi, kamu udah punya tempat untuk tinggal plus free local tour guide  (haha) atau ke pulau lain termasuk Papua sekalipun!

Kamu bisa juga memiliki ragam diskusi dari berbagai perspektif dan itu sangat precious. Aku inget banget suatu momen setelah program berakhir dan kita kembali ke provinsi masing-masing, aku mengalami sebuah masa yang “kelam” dan akhirnya aku memutuskan untuk share masalah ini ke Gegek Ita (Balinese). Dengan perspektif nya yang berbeda dan diluar kotak, aku bisa keluar dari jeratan “kelam” tersebut. Sebuah perspektif yang engga pernah terpikirkan olehku sebelumnya. (Thanks a lot Geeeek, me love ya).

Atau bisa berdiskusi dalam hal penggagasan ide kegiatan sosial, dan lain-lain. Banyak hal yang bisa dilakukan. Kita bisa saling menginspirasi satu sama lain. I could not be more grateful having you guys in my life!


4.       (Juga) Saudara yang terbentang dari Benua Australia



Selain memiliki delegasi dari Indonesia, kita juga memiliki saudara dari Negara pertukaran yang bersangkutan. Dalam hal ini, aku mendapatkan saudara dari Australia karena aku mengikuti Pertukaran Pemuda Indonesia Australia atau dalam bahasa inggris nya dikenal sebagai AIYEP (Australia Indonesia Youth Exchange Program). Masih ada 6 program lainnya yaitu SSEAYP (SouthEast Asia and Japan), IKYEP (South Korea), IMYEP (Malaysia), ASVI (India), ICYEP (Canada), dan CHIYEP (China).

Disetiap program ada yang namanya counterpart. Counterpart adalah temen yang dipasangkan satu dari Indonesia dan satu dari Australia. Di Fase Indonesia, kita akan selalu bersama. Counterpart akan menjadi temen tidur, temen makan, temen ngobrol aka curhat, temen beradu argumen, temen get lost bareng, temen sekaligus sodara, temen berkegiatan, ah komplit lah pokoknya. Nah, counterpart ku itu namanya Alexandra Haydock. Doi dari Melbourne, cantik banget, pinter pulak. Aku suka manggil doi princess, sunshine, atau Alex. Sedangkan doi punya panggilan kesayangan buat aku, haha “kasihku”. Mesra banget kan kita berdua. Kwkwkw. Alex pernah ngunjungin aku ke Aceh Desember 2015 yang lalu sampe awal Januari 2016. Dan kabar terbahagia nya adalah, Alex lulus study exchange program dan bakal kuliah di London bulan September tahun ini. Alhamdulillah! Yaiyy! She is so smart and I am a super proud sister! Selamat, sunshine!

Dan selain counterpart (temen yang paling deket), ada 17 temen Aussie lainnya yang engga kalah seru dan menginspirasi. Mereka jago di bidang nya masing-masing, dan bisa menjadi tempat koneksi terbaik. And you will feel that Aussie is like your home because they are there.



5.       Keluarga Angkat yang ngangenin
Ini salah satu the greatest part didalam AIYEP. Kamu akan mendapat keluarga angkat selama kamu tinggal di Aussie dan Indonesia. Pengalaman tentang keluarga angkat bisa dibaca di  “Silaturrrahim from Australia to the United Kingdom”

6.       Koneksi yang meluas
Seluruh aktifitas selama di program provide the good networking. Even the program has ended (for me, it has been three years and still counting on), the human relationship still go on and we stay in touch until now.

 Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang bisa didapetin di PPAN, jadi pastikan kamu mendaftar untuk seleksi PPAN 2017 di provinsi masing-masing. I send you tons of luck!



Nurul Husna Salahuddin
AIYEP 2013-2014

Silaturrrahim from Australia to The United Kingdom

Salah satu hadiah terbaik yang aku bawa pulang ketika AIYEP berakhir adalah keluarga angkat. Nah, Cerita kali ini akan aku fokus kan ke satu keluarga angkat yang aku temui ketika aku mengikuti AIYEP tahun 2013 yang lalu. Mereka adalah Reid Family.

1.       Awal Pertemuan
Mari kita berkenalan dengan para tokoh utama terlebih dahulu. Reid Family terdiri dari:
a.       Chris (Ayah angkat). Chris berasal dari Inggris tapi sudah menjadi kewarganegaraan Australia dan bekerja di Australian Museum in Sydney sebagai experts and researcher, juga merangkap sebagai dosen di salah satu Universitas di Australia. Chris tipikal ayah yang protektif dan penyayang. Oh I miss him so bad. I will talk about him later.
b.      Evi (Ibu angkat). I called her Ibu Evi. She is Indonesian, Lampung tepatnya. Ketika masih di Indonesia, Ibu Evi mengajar di Universitas Indonesia. But not anymore. She concerns about sociology, feminism, and social community. Dan beliau menyelesaikan gelar master dan doctor di Australia dan berkeluarga disana.
c.       Ewan (Baca: Yiwen. Adik angkat). I called him “big brother”. Haha. He is much younger than me. Tapi karena tinggi badan kita sama (padahal dia masih SMP waktu itu), akhirnya dia ikhlas dan pasrah aku panggil big brother. Bareng dia, aku merasa stupid. Dia tipikal anak yang malas belajar (kata emak babe nya) tapi pinter. Sebel banget engga sih, kebalik abis sama aku yang harus usaha keras belajar supaya jadi tahu. Huft. Anyway, I am a super proud sister. Haha.




Reid family offers the warm relationship when I was in Sydney for the first time. I lived with them and shared many things including interest, culture, language, etc.
Suatu hari, aku pernah pake baju kaos tebel warna biru soft yang tulisannya “Cambridge, United Kingdom”. Muncullah percakapan diantara kita berdua waktu itu.

Chris      : Nurul, have you been to the UK before?
Me         : Nope, why?
Chris      : Did your friend give the jumper for you from the UK?
Me         : Nope. I bought it in Aceh. Why?
Chris      : Because I am from the UK. Scotland. My Mum lives there. Your jumper reminds me of my hometown (Smiling)
Me         : oh you are from Scotland.
Chris      : Let me show you the album of my family.

Jadi hari itu kita ended up ngeliatin album foto keluarganya yang di Scotland dan aku amaze banget dengan pemandangan yang disuguhkan. Gila. Bagus banget! Yang aku inget waktu itu aku cuma “pengen” kesana tapi enggak tahu kapan dan bagaimana. Intinya Cuma “pengen aja”. Dan akhirnya aku tahu bahwa si ayah angkat ku ini aslinya orang Inggris yang udah jadi kewarganegaraan Australia. Begitu juga dengan ibu angkatku. Asli Indonesia tapi udah kewarganegaraan Australia (waktu itu belum permanen sih, tapi aku engga tau yang sekarang gimana).

2.       Stay in touch
Nah, setelah program berakhir, kita masih keep in touch. Kirim-kiriman foto terutama foto my big brother yang kali ini bener-bener udah big and tall, plus handsome. LOL. He is growing up before my eyes. Dan aku ngirimin balik foto foto pas aku wisuda dan occasion lainnya.

Ketika aku memutuskan untuk melamar beasiswa dan Alhamdulillah keterima, mereka luar biasa bahagia nya, terlebih ketika mereka tahu bahwa aku lulus beasiswa Chevening. British Government Scholarship. Dan ucapan selamat dari Chris waktu itu bikin aku netes. Lebih kurang Chris bilangnya gini “beasiswa ini sangat kompetitif Nurul dan sangat prestisius. Kamu sudah berhasil melewatinya berarti kamu sudah berusaha sangat keras. Well done and you deserved”

To be honest apa yang Chris bilang itu mampu merangkum semua pahit yang aku alami, ups and downs selama setahun, berwara wiri kesana kemari dengan penuh tanda tanya dan ketidakpastian, dan akhirnya Chevening seolah menjadi hadiah dari semua usaha keras yang aku jalani. Bak oase di padang pasir. Kepasrahan dan tawadhu kepada sang Pencipta. Netes. Oke, abaikan. Intinya gitu. Haha.

Kemudian, Chris nanya aku bakal sekolah dimana. Aku bilang aku masih milih antara dua, either di London or di Manchester. Besoknya, dia nge-email aku tentang beberapa konsiderasi diantara kedua pilihan tersebut yang pada akhirnya Chris merekomendasikan untuk lanjut sekolah di London. Termasuk karena faktor keamanan dan kenyamanan. Dan sebelum merekomendasikan, Chris udah melakukan berbagai research. And I was like “moved”. Chris juga bilang kalau adik nya adalah dosen Arkeologi di University of College London (UCL) dan tinggal di London. So I am able to meet his brother there. I feel like I have already had family in the UK before going there.

The last thing He told me that (at that time) that he has Mum living in Scotland. And I said I would like to visit her. Now, here I am. Somewhere in Scotland. Eventually, aku bisa ngerasain secara langsung apa yang aku lihat di album keluarga nya Chris pas aku di Aussie dulu. Allah maha Hebat! Enggak nyangka bahwa selintas kata akan menjadi sebuah kenyataan.

3.       From Australia to the UK
Aku bergerak dari London ke Dumfries (part of Scotland) by the train. Aku disuguhkan pemandangan yang ……… KEREN ABIS…….. sepanjang perjalanan. Padahal malemnya aku cuma tidur 4 jam dan berencana untuk tidur di train. Tapi apa daya, pemandangan dari jendela kaca menyihir mata aku to stay awake. Begitu nyampe di stasiun tujuan, akhirnya aku bertemu dengan Nenek Jean. Ibu nya Chris. I called her Jean. Itu kali pertama aku bertemu dengan Jean. Jean kelihatan sudah sangat tua tapi masih bisa mengendarai mobil. Lidahku tu udah gatel banget mau nanya usia nya berapa. Tapi tahan, tetep aku tahan. Haha.

Personally, I love Jean so much. She treats me very well and she is so kind. Even in the second day, kita udah ngobrol banyak hal. Termasuk, ternyata Jean adalah salah satu saksi Perang dunia kedua. Oh God. Ada sudut pandang kesedihan di mata Jean pas ngomongin masalah perang, gimana dia harus mengungsi ke satu tempat ke tempat lainnya dan itu berefek kepada keseluruhan hidupnya. Dan aku akhirnya angkat bicara sedikit tentang konflik Aceh dengan tujuan adalah untuk menyampaikan pesan bahwa even kita beda generasi, different culture-language-faith tapi we have something in common, and I could understand you because I have been on that similar situation. Percakapan cukup serius untuk diobrolkan di depan meja makan. Tapi bonding kita makin terasa.

Kita berdua juga sempet videocall dengan Chris, Ibu Evi dan Ewan di Aussie sana untuk ngasih kabar kalau aku udah di kampung halamannya Chris dan bertemu dengan Jean. I took a wefie while we were having videocall. It was so nice having family here. 




In summary, AIYEP merupakan harta berbentuk pengalaman yang tak ternilai untukku. AIYEP menjadi jembatan untuk memperluas keluarga dan mengkoneksikannya satu sama lain. Dan Chevening menjadi jembatan bersambut untuk menjadikan semua koneksi ini menjadi satu dan nyata.
Dan pada akhirnya hatiku dibuat menangis dan bahagia oleh sang maha pencipta. Dia meng-kun fayakun-kan jalan yang terbaik untukku because He knows the best. Alhamdulillah!

Allah ku, Terimakasih. Nikmat ini semoga tidak membutakan mata dan hati. Malah sebaliknya, semakin mendekatkan kepada sang Maha Pengasih.

Saturday, October 15, 2016

10 HAL BARU YANG DIDAPAT DIKELAS S2 DI INGGRIS

1.       Touch in
Sistem absensi di kelas menggunakan kartu mahasiswa yang harus di “touch” di sebuah mesin didalam kelas, 15 menit sebelum kelas dimulai. Setiap kelas memiliki mesin touch in ini. Mesin ini yang nantinya akan secara otomatis masuk kedalam rekap data absensi secara online. Jadi enggak ada yang namanya nitip absen sama temen. Di kampus Psikologi ku dulu juga ga bisa nitip absen sih secara sekelas Cuma 38 orang dan Dosen biasanya manggil nama mahasiswa satu satu. Tapi yang sekarang lebih canggih aja sistemnya.
Balik lagi, di kampus ku yang sekarang tetep ada peraturan boleh engga masuk 3 kali. Lebih dari itu, konsekuensi nya adalah…….
Tapi ada beberapa kampus yang sistem absensi nya langsung log in dengan akun mahasiswa. Tapi tetep intinya sama aja, semua nya berbasis online. Canggih ya teman-teman.

2.       Dosen sepaket
Kenapa aku kasih nama “dosen sepaket?”.
Karena satu, mereka adalah salah satu sumber ilmu. Dua, bisa jadi teman dalam waktu yang bersamaan.

3.       Setiap masuk kedalam kelas, dosen selalu menyapa dengan senyum pepsodent nya.
Sapaan pagi apakabar jadi sapaan wajib si dosen pas masuk kedalam kelas. Terkadang pertanyaan yang sama setiap hari bisa bosan juga kita dengar tapi percayalah sapaan apakabar plus senyum lebar pepsodent itu beda loh. Senyum lebar itu bisa menyebarkan suasana positif bagi yang menerima nya, dan siapa sangka kalau enerji senyuman yang diterima itu mampu memberikan semangat dalam kadar yang gede. Duh gitu deh pokoknya :’)

4.       Lebih dari sekedar on time.
Dosen udah berada dikelas seutuhnya jiwa dan raga 15 menit sebelum kelas dimulai walau hujan-angin-panas-terik menghadang. Jadi jangan mengharap “wah hujan nih, dosen kayaknya bakal telat” atau “semoga aja enggak ada kelas hari ini”
Delete permanently semua bayang-bayang kalimat sejenis itu sekarang juga. Daripada kecewa kan ya mending dikasih tau duluan.

5.       Kelas penuh, dosen tidak duduk.
Jadi pernah suatu hari, kelas untuk mata kuliah x kekurangan kursi didalam kelas. Belum pernah kejadian kayak gini sih di minggu yang lalu. Kayaknya ada mahasiswa yang baru dateng minggu itu tapi engga dateng minggu yang lalu. Karena kursi nya kurang satu, si dosen  ngasih kursi nya ke mahasiswa tersebut dan beliau berdiri (sambil ngejelasin materi) sepanjang perkuliahan yang durasi nya adalah 3 jam. Duh, I was like “terharu-netes-senyum-merinding”

6.       “Does that make sense?”
“does that make sense?” menjadi pertanyaan yang sering kali ditanyakan ketika satu slide presentasi dilewati. Mungkin ini bermakna sama dengan pertanyaan “ada pertanyaan?” atau “kalian sudah paham?”
Tapi setelah memasuki beberapa kelas, aku mulai paham dengan makna lebih mendalam dibalik “does that make sense?” tersebut.
Itu adalah pertanyaan yang memancing daya kritis mahasiswa. Bagaimana mahasiswa nantinya mampu mengkritisi dan mengevaluasi dari sebuah teori x misalnya diawali dengan pertanyaan “does that make sense?” itu tadi.

7.       Apresiatif
Sifat apresiatif dosen di kelas udah menjadi pengetahuan banyak orang aku rasa. Jadi aku enggak akan menjelaskan bagian ini. Tapi yang pasti, dosen sangat apresiatif.

8.       Pertanyaan terbuka dan dapat diinterupsi kapanpun.
Mahasiswa dapat bertanya kapan pun ketika berada didalam kelas dan dapat menginterupsi di tengah-tengah dosen memberikan materi. Tanda interupsi bisa dengan mengangkat tangan dan bahkan ada yang langsung bertanya sebelum dosen mempersilakan. Sifat nya lebih kepada “two-way-communication”. Jadi jangan segan-segan kalau ingin bertanya dan jangan pikir kan kalau pertanyaan kita sounds silly. Nanya aja. Namanya juga lagi belajar kok.

9.       Tidak ada yang pegang hp di kelas
Durasi belajar mengajar di kampus ku adalah 3 jam untuk satu kali pertemuan. Yah 1 jam pertama masi bisa lah ya mempertahankan konsentrasi dan kekuatan mata serta pikiran. Tapi siapa yang bisa menjamin 2 jam selanjutnya? Haha.
Nah, aku punya 1 jadwal yang full seharian belajar di kelas. Yaitu hari jumat. Dari jam 10 pagi sampe jam 5 sore. Bisa dibayangin aja gimana rasanya duduk dikelas belajar seharian. Apalagi untuk kelas siang. Secapek apapun, sengantuk apapun, surprisingly, engga ada satu mahasiswa pun yang megang hape dikelas. Ini sebuah penemuan fantastis menurut ku. Smartphone yang sangat lengket dengan telapak tangan kita sekarang di Indonesia, tapi ternyata engga berlaku disini. Takjub. Apalagi untuk kasus dikelas.
Yang ada sih rata-rata pada buka notebook, ipad, dan sejenisnya yang digunakan untuk membaca materi entah itu e-journals maupun e-books. Intinya, engga ada yang megang hp untuk kebutuhan membaca notifikasi socmed.

10.   Angkat tangan
Mahasiswa disini punya banyak sekali pertanyaan. Mereka engga akan segan-segan untuk bertanya. Jadi jika kamu punya pertanyaan, segera angkat tangan dengan cepat. Kalau engga, kesempatan akan lewat dan ingat kelas punya batas waktu. Alternatif lain bisa sih nanya diluar kelas, tapi kita harus buat janji dulu dengan si dosen nya. Tapi menurut ku selagi pertanyaan nya masih panas dan bisa ditanyain di kelas, ya nanya aja. Hehe.



Catatan: ini adalah pengalamanku di jurusan Psikologi Klinis dan Komunitas, yang mana situasi belajar nya penuh dengan materi, bacaan, diskusi, seminar, dan essay. Ini mungkin akan sedikit berbeda dengan lingkungan gaya belajar mengajar di jurusan yang lain, terutama di bidang sains. Tapi lebih dan kurang ya kayak gitu. Semoga Bermanfaat!

Saturday, October 8, 2016

Frequently Asked Questions About Applying Chevening, By Cuex

Aku udah ngumpulin beberapa pertanyaan yang sering ditanyain oleh para scholar hunters. Berikut daftar pertanyaan dan jawaban berdasarkan pengalaman aku. Semoga menjawab pertanyaan temen-temen semuanya!

1.       Beasiswa Chevening ditanggung berapa tahun ya?
1 tahun

2.       Terus, kalau kampus pilihanku itu 2 tahun gimana ya? Apa Chevening mau nanggung?
Enggak. Chevening hanya nanggung setahun. Kamu harus cari lagi pilihan kampus yang lain. Pasti ada kok, secara rata-rata durasi kuliah S2 di Inggris itu setahun.

3.       Boleh enggak ngambil course yang sifatnya part time?
Enggak, international students diharuskan ngambil course yang sifatnya full time.

4.       Kalau belum ada IELTS, boleh enggak apply dulu pake TOEFL ITP?
Chevening tidak menerima TOEFL ITP.

5.       Terus aku belum ada IELTS, Cuma ada TOEFL ITP, gimana ya?
Jangan khawatir, nilai IELTS masuk ke kategori persyaratan opsional. Jadi kalau belum ada nilai IELTS ketika mendaftar, enggak apa apa kok. Aku juga pas daftar tahun yang lalu belum ada nilai IELTS.
Biar memudahkan temen-temen memahami, ada dua tipe persyaratan. Yang pertama adalah persyaratan yang sifatnya wajib. Dan yang kedua adalah persyaratan opsional.
















6.       Jadi kalau engga ada LOA juga engga apa apa?
Ya, enggak apa apa. IELTS dan LOA  bisa dilampirkan nanti setelah lulus.

7.       Apakah ada poin tambahan untuk lulus kalau sudah ada IELTS dan LOA?
Tahun lalu aku ngepply Chevening, aku belum ada nilai IELTS dan LOA sama sekali. Alhamdulillah, aku lulus. Jadi berdasarkan pengalaman ku, kedua hal tersebut tidak menjadi persoalan ketika mendaftar. Tapi akan menjadi hal yang wajib ketika kamu sudah keterima sebagai awardee, dan mereka memberikan deadline sampai tanggal 13 Juli 2017.

8.       Terus, apa yang harus aku persiapkan sebelum mendaftar?
Persiapkan persyaratan wajib yang udah tertera di tabel diatas terutama bagian Essay dan pengalaman kerja

9.       Boleh engga pengalaman kerja nya semenjak kuliah?
Boleh.

10.   Tipe pekerjaan nya seperti apa ya?
Semua jenis termasuk volunteering, unpaid job, paid job, professional volunteering, internship, dll.

11.   Gimana cara menghitung waktu kerja sehingga mencapai 2 tahun sesuai dengan yang diminta oleh Chevening saat mendaftar?
Ketika kamu mengisi aplikasi secara online melalui portal chevening, di bagian working experience akan dijelaskan mengenai format penghitungan waktu, baik yang kerjanya bersifat part time maupun full time. Silakan dibaca dan dipahami.

12.   Apakah perlu melampirkan sertifikat atau SK kerja?
Chevening tidak meminta kita untuk meng-upload SK atau sertifikat kerja, namun bisa dibawa ketika sesi wawancara.

13.   Apa saja Essay yang diminta oleh Chevening?
Pada umumnya, ada 4 essay yang harus kita submit, diantara nya adalah mengenai leadership, networking, study plan, and career plan. Dan masing-masing essay dibatasi dengan 500 kata.

14.   Apakah ada tips bagaimana menulis essay yang baik?
Pada dasarnya ketika menulis essay untuk Chevening, aku tertular gaya penulisan essay IELTS karena waktu itu aku lagi belajar untuk ikut tes IELTS. Jadi format nya sederhana, ada paragraf pembuka disertai dengan thesis statement, paragraf inti, dan paragraf penutup.

15.   Adakah saran utk essay mengenai leadership?
Karena essay nya terbatas dengan 500 kata, saranku sih pilihlah pengalaman leadership kamu yang best of the best. Dua pengalaman cukup. Jangan dimasukkan semua pengalaman leadership nya. Aku paham sih kalau mungkin diantara kita pengen nunjukkin bahwa kita kaya akan pengalaman, tapi kamu harus konsiderasikan 500 kata tadi. Mending dipake buat jelasin peran kamu di program yang dijalani, terus apa yang kamu lakukan, kenapa program tersebut dilakukan, apa dampaknya buat masyarakat, dll. Itu aja aku yakin 500 kata udah habis duluan. Lol.

16.   Apakah harus menyertakan pengalaman leadership yang sifatnya nasional atau internasional?
Menurut aku engga harus sih. Aku pribadi ngasih 2 contoh leadership yang skala nya malah lokal abis, aku pernah buat kegiatan sosial di daerah pedalaman dan mungkin malah itu yang membuat examiner impress sama essay yang aku buat.

17.   Bagaimana dengan essay tentang networking?
Aku pribadi nyebutin dua hal ini dalam essay ku. Satu, makna networking menurut kamus hematku. Dua, networking yang sudah dimiliki dan bagaimana itu akan membantu mencapai career plan kedepan

18.   Bagaimana dengan essay tentang study plan?
Aku nyebutin hal-hal berikut:
—  Jurusan dan Universitas
—  Alasan memilih jurusan dan universitas tersebut (se urjen mungkin)
—  Dengan jurusan tsb, akan memberikan dampak positif yang meluas (not self-orientation)
—  Jangan lupa apresiasi kelebihan dari uni tsb

19.   Bagaimana dengan essay tentang career plan?
Essay tentang career plan merupakan essay terpendek daripada essay2 yang lainnya. Haha. Yang penting karir kedepan yang akan kamu jalani itu bersifat Specific, Realistic, Achievable.

20.   Adakah saran tambahan lain untuk pembuatan essay?
Tambahan sedikit dari aku:
—  Buat kerangka berpikir sebelum menulis, agar memudahkan ketika mengalirkan ide yang dituangkan dalam kalimat-kalimat.
—  Adanya benang merah antara essay mengenai leadership, networking, study plan, career plan
—  Ide nya terurai dengan jelas dan baik sehingga memudahkan examiner menangkap apa yang ingin kamu sampaikan.
—  Berikan waktu untuk melakukan self editting dan juga proofreading

21.   Mengenai surat rekomendasi, apakah ada kerangka khusus dari Chevening?
Tidak ada standar khusus. Silakan menemui dua orang pemberi rekomendasi yang kenal betul dengan kamu dan bersedia untuk membuat surat ini untuk kamu. Saranku, mintalah kesediaan satu orang dari bidang akademik (boleh dekan, ketua prodi, dosen pembimbing, dosen wali), dan satunya lagi dari bidang profesionalitas (job supervisor/atasan kamu). Mengenai isi surat rekomendasi, silakan obrak abrik aja google karena banyak sekali contoh surat rekomendasi disana. Aku nya juga dulu berkiblat kesana. Haha.

22.   Berapa lembar untuk membuat surat rekomendasi?
Cukup 1 halaman aja kok.

23.   Setelah mengirimkan berkas secara online, apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Penutupan aplikasi beasiswa Chevening jatuh dibulan November 2016. Pengumuman kelulusan untuk masuk ke tahap wawancara sekitar bulan Februari. Aku pribadi dihubungi oleh pihak kedutaan di akhir bulan januari dan awal februari pengumuman secara resmi melalui email. Dan aku dapet jadwal wawancara di awal bulan April. Jadi ada waktu sekitar 1,5 bulan untuk persiapan wawancara.

24.   Gimana pengalamannya di tahap wawancara? Adakah tips khusus untuk lulus wawancara Chevening?
Khusus bagian wawancara, aku akan jawab di tulisan selanjutnya. Ditunggu ya! :D

25.   Sembari nunggu tulisan selanjutnya, aku mau dong dibagi pengalaman kuliahnya disana!
Karena jadwal kuliah yang padat, temen-temen boleh kepoin instagram aku dulu ya (haha, promosi). Aku biasanya ngapdet disana lebih cepet daripada ngeblog (newbie soalnya)

26.   Aku punya beberapa pertanyaan lanjutan mengenai chevening, boleh dihubungin kemana ya?
Boleh dikomen di kolom komentar blog ini ya. Atau silakan mampir kemari:



Segitu dulu dari #cuexjenius. Semoga enggak menyesatkan. Haha.